DISKRIMINASI WARTAWAN KERAP TERJADI, INI SIKAP FPII

28
0
SHARE

 

betawipost co.id Surabaya – Diskriminasi dan penyekatan peliputan jurnalis sebagai ruang kontrol disarana umum area publik kerap terjadi.

Ingatan kita masih hangat atas kejadian oknum polantas polres malang dan kapolres Waykana Lampung yang dengan sengaja melontarkan ujaran kebencian terhadap wartawan diruang publik area umum.

Kali ini, kejadian hampir serupa dialami salah satu Media Online Surabaya yang berinisial (IS) oleh Oknum Anggota Kepolisian Sektor Simokerto saat hendak meliput Kegiatan Razia di Jalan Raya Pegirian, Surabaya, Rabu (27/09/2017) sekitar pukul 10.30 wib.

Saat dikonfirmasi awak media, Is menceritakan kronologis kejadiannya, _bermula adanya informasi Giat Razia yang digelar polsek Simokerto Surabaya. Setelah sepeda motor saya parkirlan dan tiba tiba saya langsung ditanya oleh Anggota Reserse. Selanjutnya saya bilang bahwa saya dari Media Online dan sekaligus minta izin sama Reserse tersebut untuk meliput kegiatan Razia ini. (Silahkan mas, Ucap Reserse)._

Hal yg mengejutkan, sambung Is dimana ia sudah menunjukkan Identitas Diri/Id Card Wartawan, namun tiba tiba dengan sangat arogannya, Petugas lainnya langsung mengambil Id Card dan di foto Id Card miliknya.

“Bukan hanya mengambil paksa ID Pers saya, semua File hasil Liputan Kegiatan Razia Polsek Simokerto dihapus juga oleh Oknum Polisi itu. Bahkan File hasil dari Liputan Kegiatan Razia lainnya yang dari Polsek Pabean Cantikan di Jalan Stasiun Kota Surabaya sekitar pukul 09.25 wib juga dihapusnya, ” keluh Is.

Menurut pengakuan Kanit Shabara AKP Marno saat dimintai keterangannya mengatakan bahwa dirinya waktu kejadian tersebut berada diseberang jalan mengatur lalu lintas serta mengarahkan roda 2 untuk masuk.

“Saya kira orang itu dari Polrestabes,” Ucap Marno.

Ditempat yang sama, Kanit Intel Polsek Simokerto AKP Mbah Surip menjelaskan bahwa kedatangan temen wartawan tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu ke kami. Dikatakannya, ia tidak minta izin dulu sebelum memfoto – foto Kegiatan Razia.

“Kita juga punya Undang – Undang dalam melakukan Razia mas, kata Surip.

Kapolsek Simokerto Kompol Mazdawati menyesalkan kejadian seperti itu terjadi lantaran hanya miskomunikasi ajh.

Dengan adanya insiden ini, Kami selaku Kapolsek minta maaf kepada kawan – kawan Jurnalis. Karena ini hanya miskomunikasi aja, Semoga kedepannya kita bisa bersinergi dengan baik,” ucap Mazdawati saat dikonfirmasi awak media.

Kata Kapolsek Simokerto saat kejadian tesebut dirinya sedang ada di Polrestabes Surabaya, “Jika ada saya, Pasti saya juga ikut Kegiatan Razia, toh yang turun melakukan Razia adalah punggawa – punggawa saya mas,” Jelasnya.

Ditempat terpisah, Udin dari Aliansi wartawan Surabaya saat ditemui awak media mengatakan, dirinya sangat menyayangkan hal seperti terjadi. Bagaimanapun juga setiap Wartawan mempunyai Asas, Fungsi, Hak, Kewajiban, dan Peranan Pers yang diatur dalam Undang – Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Ungkapnya.

Melalui siaran persnya, Ketua Setnas FPII (Forum Pers Independent Indonesia) angkat bicara dan mengecam keras segala bentuk upaya pendiskriminasian, penghinaan, pelecehan terhadap wartawan, pelarangan liputan tanpa dasar kuat serta tindak kekerasan terhadap wartawan.

Sebagai profesi wartawan yang dilindungi UU Pers bahwa negara menjamin kemerdekaan pers sebagai hak asasi warga negara.

Bahwa terhadap Pers Nasional tidak dikenakan Penyensoran, Pembredelan atau Pelarangan Penyiaran.

Bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, Pers Nasional mempunyai Hak Mencari, Memperoleh, dan Menyebarluaskan Gagasan dan Informasi.

“Jadi hal – hal yang kerap terjadi perlawanan terhadap profesi wartawan adalah pelanggaran hukum.” tegas Opan Ketua Setnas FPII.

Opan menerangkan bahwa di Pasal 18 UU Pers 40/1999, _’Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat Menghambat atau Menghalangi pelaksanaan ketentuan profesi wartawan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau Denda paling banyak Rp. 500.000.000,00._

“Saya rasa Kapolsek Simokerto Kompol Mazdawati paham akan supremasi hukum yang tepat bagi oknum anggotanya untuk mengatasi insiden ini hingga tidak berlarutnya kasus pendiskriminasian wartawan yang meninpa Is.” tutup Opan.


Warning: A non-numeric value encountered in /home/betawipo/public_html/wp-content/themes/Newsmag/includes/wp_booster/td_block.php on line 353

LEAVE A REPLY